Connect with us

BERITA

22 Ribu Warga Tinggalkan Jakarta, Biaya Hidup dan Ekonomi Jadi Pemicu

Published

on

Kesibukan pulang kerja warga Jakarta. (Foto:mtknews)

Jakarta | MantikNews.com – Arus perpindahan penduduk pasca-Lebaran 2026 menunjukkan fenomena yang berbeda di Ibu Kota. Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mencatat sebanyak 22.617 warga resmi keluar dari Jakarta, sementara jumlah pendatang baru yang masuk hanya mencapai 12.766 jiwa.

Data tersebut menandakan angka warga yang meninggalkan Jakarta hampir dua kali lebih besar dibanding jumlah pendatang baru. Fenomena ini dinilai menjadi sinyal menguatnya tren deurbanisasi, yakni perpindahan masyarakat dari pusat kota menuju wilayah penyangga yang dianggap lebih layak secara ekonomi dan kualitas hidup.

Example 400x400

Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, mengatakan mobilitas penduduk tahun ini tidak sekadar dipengaruhi faktor administratif, tetapi juga dipicu tekanan ekonomi dan perubahan pola hidup masyarakat urban.

“Sebagian warga sebenarnya sudah lama tinggal di wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, namun masih menggunakan KTP elektronik Jakarta. Sekarang mereka mulai menyesuaikan data kependudukan sesuai domisili sebenarnya,” ujar Denny.

Menurutnya, program penertiban administrasi kependudukan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut mendorong masyarakat memperbarui status domisili secara resmi sesuai tempat tinggal aktual mereka.

Kenaikan biaya hidup di Jakarta disebut menjadi faktor utama yang mendorong warga memilih pindah ke kota penyangga. Tingginya harga rumah, biaya kontrakan, kebutuhan pokok, hingga pengeluaran transportasi membuat sebagian masyarakat menilai hidup di ibu kota semakin sulit dijangkau, khususnya bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

Banyak keluarga kini lebih memilih menetap di kawasan Bodetabek karena biaya hunian dinilai lebih murah dengan lingkungan yang relatif lebih nyaman dibanding Jakarta.

Selain alasan ekonomi, persoalan kualitas hidup juga menjadi pertimbangan serius. Polusi udara yang memburuk, kemacetan lalu lintas, kepadatan penduduk, hingga ancaman banjir tahunan disebut menjadi faktor yang mendorong warga mencari lingkungan tempat tinggal yang lebih sehat dan manusiawi.

Meski berpindah tempat tinggal, sebagian besar warga tetap menggantungkan aktivitas pekerjaan di Jakarta. Mereka memilih tinggal di wilayah penyangga yang telah terhubung dengan transportasi publik seperti KRL, MRT, dan LRT sehingga mobilitas menuju pusat ekonomi ibu kota tetap memungkinkan.

Berdasarkan data Dukcapil DKI Jakarta, mayoritas warga yang keluar dari ibu kota berasal dari kelompok usia produktif dengan persentase mencapai 71,57 persen.

Sementara itu, sekitar 64,53 persen di antaranya merupakan masyarakat berpenghasilan rendah. Faktor kebutuhan perumahan menjadi alasan terbesar perpindahan dengan angka mencapai 33,92 persen.

Kondisi ini menunjukkan tekanan ekonomi perkotaan mulai berdampak langsung terhadap pola hunian masyarakat, terutama pekerja muda dan keluarga baru yang membutuhkan tempat tinggal lebih terjangkau namun tetap dekat dengan pusat aktivitas ekonomi.

Fenomena tersebut juga memperlihatkan perubahan pola kehidupan masyarakat metropolitan, di mana bekerja di Jakarta tidak lagi harus diikuti dengan tinggal di dalam wilayah ibu kota.

Meski angka perpindahan keluar Jakarta meningkat, ibu kota diperkirakan tetap menjadi pusat kegiatan ekonomi nasional. Namun pola interaksi masyarakat kini semakin terintegrasi dalam kawasan aglomerasi Jabodetabek.

Model kehidupan urban perlahan berubah menjadi sistem kawasan terpadu, di mana masyarakat tinggal di kota satelit namun tetap bekerja dan beraktivitas di Jakarta setiap hari.

Situasi ini menjadi tantangan baru bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dalam menata transportasi massal, penyediaan hunian terjangkau, serta sinkronisasi layanan publik lintas wilayah agar mampu mengimbangi perubahan mobilitas penduduk yang terus berkembang.***

 
Example 400x400
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *