Connect with us

BERITA

Pengakuan Masinis Argo Bromo Anggrek: Sinyal Diduga Error, Kecepatan 110 Km/Jam Sulitkan Pengereman

Published

on

Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofriandri. (Foto: Ist)

Bekasi | MantikNews.com — Fakta baru mulai terungkap dari kecelakaan kereta api yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Salah satunya datang dari pengakuan Masinis KA Argo Bromo Nofiandri yang menyebut adanya dugaan gangguan pada sistem persinyalan.

Dalam rekaman keterangan yang beredar di channel beberapa video, masinis mengaku mengalami kebingungan terhadap perubahan sinyal saat kereta melaju dengan kecepatan tinggi.

Example 400x400

“Saya belum sempat menerima informasi lengkap, tapi sinyal tiba-tiba berubah. Harusnya tidak langsung merah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, secara prosedur normal, perubahan sinyal tidak terjadi secara drastis. Jika sebelumnya hijau, seharusnya berubah terlebih dahulu menjadi kuning sebelum merah.

“Kalau dari sebelumnya hijau, maksimal kuning dulu, tidak langsung merah. Ini seperti ada error,” ujarnya.

Saat kejadian, KA Argo Bromo Anggrek disebut melaju dengan kecepatan sekitar 110 km/jam, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengereman mendadak dalam jarak dekat.

“Kecepatannya sudah sekitar 110 km/jam, jadi tidak bisa langsung berhenti,” tambahnya.

Ia juga mengaku telah menerima informasi awal terkait adanya insiden sebelumnya, yakni KRL yang tertemper taksi di jalur. Namun, informasi tersebut belum sepenuhnya dipahami sebelum situasi berubah cepat di lapangan.

“Ada informasi di depan ada kejadian, tapi belum sempat saya pahami seluruhnya,” katanya.

Sementara itu, masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandri, yang selamat dalam insiden tersebut. Ia berada di ruang kendali saat tabrakan terjadi dan mengalami luka ringan serta trauma. Asisten masinis juga selamat dan turut menjalani pemeriksaan.

Kementerian Perhubungan menegaskan bahwa penyelidikan menyeluruh akan dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan adanya gangguan sistem maupun faktor komunikasi.

“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh dan mendukung investigasi bersama KNKT serta pihak terkait,” ujar perwakilan Kemenhub.

Hingga Selasa (28/4/2026), jumlah korban dilaporkan mencapai 15 orang meninggal dunia, sementara delapan puluh lebih lainnya mengalami luka dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Proses investigasi kini tengah berlangsung oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dengan fokus pada data teknis, termasuk sistem persinyalan, komunikasi operasional, serta rekaman perjalanan kereta.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil resmi investigasi dan tidak berspekulasi, mengingat seluruh faktor penyebab masih dalam pendalaman.

Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya keandalan sistem persinyalan dan komunikasi dalam operasional kereta api, terutama di jalur padat dengan tingkat risiko tinggi.

Example 400x400
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *