AMBON | MantikNews.com – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) beragama Kristen di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai mengikuti ibadah Minggu, yang dirangkaikan dengan ungkapan syukur atas remisi yang mereka terima, Minggu (23/8/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung, dalam suasana penuh kekhusyukan. Selain menjadi bagian dari rutinitas pembinaan keagamaan, ibadah bersama ini menjadi ruang bagi WBP untuk mengungkapkan rasa syukur, sekaligus memperkuat komitmen menjalani proses pembinaan selama berada di Lapas.
Pelayanan firman dalam ibadah tersebut dilakukan oleh Majelis Jemaat Bethsan Gereja Protestan Maluku (GPM) Wahai.
Rangkaian kegiatan diisi dengan doa, pembacaan firman, serta puji-pujian. Pelaksanaan ibadah mendapat pengawasan petugas lapas, untuk memastikan seluruh kegiatan berlangsung aman dan tertib.
Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, pembinaan kerohanian memiliki peran penting, dalam membantu WBP membangun kesadaran diri, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik, setelah menyelesaikan masa pidana.
Menurutnya, pemberian remisi merupakan salah satu bentuk penghargaan, atas pemenuhan persyaratan dan perilaku baik WBP selama mengikuti pembinaan.
Karena itu, momentum tersebut diharapkan dapat mendorong mereka untuk semakin disiplin dan konsisten memperbaiki diri.
“Lapas tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga bagaimana warga binaan dapat mengalami perubahan sikap dan perilaku. Pembinaan rohani menjadi salah satu bagian penting, dalam proses tersebut,” ujar Tersih.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada GPM Wahai, yang selama ini turut mendukung pelaksanaan pembinaan keagamaan bagi WBP.
“Sinergi tersebut dinilai penting, dalam memberikan penguatan moral dan spiritual selama menjalani masa pembinaan,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi menambahkan, ibadah Minggu secara rutin merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian.
Kegiatan keagamaan diharapkan dapat membantu WBP membangun ketahanan mental, sekaligus meningkatkan kesadaran untuk meninggalkan perilaku, yang bertentangan dengan norma hukum dan sosial.
“Pembinaan kepribadian kami lakukan secara berkelanjutan. Harapannya, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan bekal untuk kembali menjalani kehidupan secara positif di tengah masyarakat,” katanya.
Dari sisi pengamanan, petugas memastikan, kegiatan berlangsung dalam kondisi kondusif.
Petugas pengamanan, Jandry Batlajery mengatakan, pengawasan dilakukan secara humanis dengan tetap memperhatikan ketertiban selama ibadah berlangsung.
“Seluruh kegiatan berjalan aman dan tertib. Kami memberikan ruang kepada warga binaan, untuk mengikuti ibadah dengan khusyuk, namun tetap memastikan aspek keamanan berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu WBP, JP mengaku, kegiatan ibadah memberikan ketenangan, sekaligus menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri.
Ia menilai, dukungan pembinaan rohani membantu WBP menghadapi masa pidana dengan lebih kuat.
“Ibadah menjadi kesempatan bagi kami, untuk menguatkan iman dan belajar memperbaiki diri. Kami berharap, bisa terus menjadi lebih baik,” tuturnya.
Majelis Jemaat GPM Wahai, Jhon Asomate mengatakan, pelayanan kepada WBP merupakan bagian dari upaya gereja memberikan penguatan spiritual kepada seluruh jemaat dan masyarakat, tanpa membedakan latar belakang.
Ia berharap, pesan keagamaan yang disampaikan dalam setiap pelayanan dapat menjadi motivasi bagi WBP, untuk menjalani proses pembinaan dengan sungguh-sungguh, serta mempersiapkan diri kembali ke lingkungan keluarga dan masyarakat.
Melalui kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin, Lapas Kelas III Wahai berupaya menjadikan pembinaan mental dan spiritual, sebagai bagian integral dari proses pemasyarakatan.
Momentum syukuran remisi pun diharapkan tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi menjadi dorongan bagi WBP, untuk terus membangun perubahan positif dan menatap masa depan dengan penuh harapan.











