BERITA

Ibadah HUT ke-91 GPM di Lapas Wahai Jadi Momentum Penguatan Iman Warga Binaan

Qiran
32
×

Ibadah HUT ke-91 GPM di Lapas Wahai Jadi Momentum Penguatan Iman Warga Binaan

Sebarkan artikel ini
Peringatan HUT ke-91 GPM turut dirayakan, di Lapas Kelas III Wahai, melalui ibadah syukur bersama, Minggu (6/9/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-91 Gereja Protestan Maluku (GPM) turut dirayakan, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, melalui ibadah syukur bersama, Minggu (6/9/2026).

Ibadah tersebut diikuti warga binaan beragama Kristen bersama jajaran pegawai Lapas Wahai, serta para pelayan firman dari GPM Jemaat Bethsan Wahai. Suasana ibadah berlangsung penuh khidmat dan sukacita.

Bagi Lapas Wahai, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perayaan hari jadi GPM, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kepribadian bagi warga binaan.

Kehadiran pelayanan gereja di lingkungan lapas diharapkan dapat memberikan penguatan iman, sekaligus membantu warga binaan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan, setelah menjalani masa pidana.

Pelaksana Harian Kepala Lapas Wahai, Usman Bakri mengatakan, pembinaan spiritual memiliki posisi penting, dalam membentuk sikap dan karakter warga binaan.

Ia berharap, keterlibatan GPM dalam pembinaan keagamaan dapat terus memberikan dampak positif bagi warga binaan selama berada di Lapas.

“Kami menyampaikan selamat HUT ke-91 GPM. Kehadiran dan keterlibatan gereja di dalam lapas bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan wujud nyata kepedulian sosial dan spiritual. Pembinaan kerohanian seperti ini sangat penting, untuk menyentuh hati para warga binaan, agar mereka betul-betul siap kembali ke tengah masyarakat, dengan mental dan karakter yang baru,” ujar Usman.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi menambahkan, bahwa pembinaan berbasis agama menjadi salah satu program yang terus difasilitasi bagi warga binaan.

Menurutnya, kegiatan keagamaan tidak hanya memberikan ruang bagi warga binaan untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi media untuk menanamkan nilai moral, dan membangun kebiasaan positif.

“Program pembinaan kepribadian berbasis keagamaan terus kami prioritaskan. Melalui ibadah syukur ini, kami berharap nilai-nilai iman dan kebersamaan terus tertanam dalam diri warga binaan, sebagai bekal perubahan perilaku sehari-hari,” ungkap La Joi.

Bagi warga binaan, pelayanan keagamaan yang dilakukan bersama GPM Jemaat Bethsan juga memberikan dukungan secara emosional, selama menjalani masa pembinaan.

Salah seorang warga binaan berinisial RR mengaku bersyukur, karena tetap mendapatkan perhatian dan pendampingan dalam menjalankan kehidupan keagamaannya di dalam Lapas.

“Kami merasa sangat bersyukur dan tidak merasa disisihkan. Perhatian dari para pelayan GPM Jemaat Bethsan yang rutin mendampingi kami ibadah membuat kami makin optimis, dan menguatkan iman kami selama menjalani masa pidana,” ucap RR.

Apresiasi terhadap keterlibatan gereja dalam pembinaan warga binaan turut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro.

Ia menilai, dukungan lembaga keagamaan seperti GPM menjadi bagian penting dalam memperkuat pelaksanaan pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.

“Terima kasih dan apresiasi yang mendalam kami sampaikan kepada GPM Jemaat Bethsan, atas pelibatan proaktif dan dedikasinya selama ini dalam mendukung pembinaan kerohanian bagi warga binaan di Lapas Wahai. Sinergi positif ini adalah bukti nyata peran aktif gereja, dalam mendukung tugas pemasyarakatan, dan mencerdaskan kehidupan spiritual masyarakat,” tutur Ricky.

Dalam ibadah tersebut, Majelis Jemaat Bethsan juga menyampaikan perenungan berdasarkan firman Tuhan dengan mengangkat tema HUT ke-91 GPM, yakni “Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Takut akan Allah.”

Pesan yang disampaikan mengajak warga binaan, untuk menjadikan rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan, serta tetap tekun melakukan hal-hal baik dalam setiap situasi.

Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan proses pembinaan di lapas, yang pada dasarnya bertujuan mendorong warga binaan melakukan perubahan diri, sebelum kembali berkumpul bersama keluarga, dan menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Ibadah kemudian diakhiri dengan doa bersama. Doa tersebut dipanjatkan bagi kedamaian dan kemajuan pelayanan GPM di Maluku, sekaligus memohon kelancaran seluruh proses pembinaan warga binaan di Lapas Kelas III Wahai.

Example 400x400