Scroll untuk baca artikel
BERITA

Wattimena: Pengelolaan Sampah Harus Menjadi Investasi Jangka Panjang

Qiran
64
×

Wattimena: Pengelolaan Sampah Harus Menjadi Investasi Jangka Panjang

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, saat memaparkan rencana pembangunan MRF dengan teknologi RDF, dalam rangkaian KPPD Angkatan III Tahun 2026, di Lemhannas RI, Rabu (15/7/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena menegaskan, pengelolaan sampah tidak boleh lagi dipandang sekadar tugas rutin, melainkan harus menjadi investasi jangka panjang, untuk mewujudkan lingkungan bersih, meningkatkan nilai ekonomi, serta mendukung ketahanan energi daerah.

Penegasan ini disampaikan Wattimena, saat memaparkan rencana pembangunan Material Recovery Facility (MRF) dengan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), dalam rangkaian Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026, di Lemhannas RI, Rabu (15/7/2026).

“Persoalan sampah bukan lagi masalah biasa. Ini butuh solusi berkelanjutan lewat inovasi, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi,” ujar Wattimena.

Langkah utama yang disiapkan adalah, fasilitas MRF terintegrasi RDF, di mana sampah dipilah dan diolah menjadi bahan bakar alternatif, serta produk bernilai ekonomi, bukan sekadar ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Targetnya, pada tahun 2027 hanya sekitar 10 persen sampah yang masuk ke TPA, sedangkan sisanya diolah menjadi RDF, kompos, maupun bahan daur ulang.

Berbagai tahapan persiapan sudah berjalan, mulai dari studi kelayakan, penetapan lokasi, skema pembiayaan dari APBD dan kerja sama swasta, hingga penyusunan desain teknis yang ditargetkan mulai direalisasikan akhir tahun 2026.

“Pemerintah juga memperkuat edukasi masyarakat, pembentukan tim pengawas lingkungan, serta sinergi dengan Pemprov Maluku, dan seluruh pemangku kepentingan,” kata dia.

Saat ini volume sampah di Ambon mencapai sekitar 250 ton per hari. Pemerintah menargetkan 55 persen diolah menjadi RDF, 15 persen bahan daur ulang, 25 persen kompos, dan hanya 10 persen yang dibuang ke TPA.

“Kami ingin sistem yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dari sampah sebagai sumber energi,” jelasnya.

Selain memaparkan program daerah, Wattimena juga berbagi pengalaman berharga selama mengikuti KPPD, antara lain mempelajari sistem pengelolaan sampah di Singapura yang menjadi inspirasi penerapan teknologi, yang sesuai kondisi lokal.

Ia juga mengambil pesan mendalam dari dialog dengan mantan Perdana Menteri Singapura, bahwa integritas, komitmen, dan ketulusan melayani adalah fondasi utama kepemimpinan.

Wattimena berharap, seluruh peserta KPPD dapat menjadikan kesempatan ini untuk memperluas jejaring, memperkaya wawasan, dan melahirkan kebijakan yang berdampak nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah masing-masing.

Example 400x400