AMBON | MantikNews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai mengakhiri rangkaian kegiatan selama Agustus 2026, dengan menggelar ibadah kebaktian minggu kunci bulan di Gereja Ebenhaezer Lapas, Minggu (30/8/2026).
Ibadah tersebut menjadi momentum bagi petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Kristiani, untuk mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang bulan Agustus.
Salah satu hal yang turut disyukuri adalah, pemberian Remisi Kemerdekaan kepada sejumlah warga binaan, dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Selain ungkapan syukur, rangkaian ibadah juga diisi dengan doa bagi masyarakat yang tengah menghadapi bencana alam.
Para jemaat mendoakan, agar Tuhan memberikan perlindungan bagi masyarakat di berbagai daerah dan negara yang terdampak musibah, termasuk korban banjir bandang di Nepal, serta kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya menyampaikan, bahwa ibadah kunci bulan tidak sekadar menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga kesempatan untuk melakukan evaluasi dan refleksi, atas perjalanan selama satu bulan.
Menurutnya, rasa syukur atas berbagai berkat yang diterima perlu berjalan beriringan, dengan kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan.
“Agustus menjadi bulan yang penuh berkat bagi kita, termasuk melalui pemberian remisi kepada warga binaan. Karena itu, kita patut bersyukur. Tetapi rasa syukur juga harus diwujudkan dengan kepedulian kepada sesama, terutama mereka yang sedang menghadapi bencana,” ujar Tersih.
Ia berharap, doa yang dipanjatkan bersama dapat menjadi bentuk permohonan perlindungan bagi Lapas Wahai, masyarakat sekitar, maupun masyarakat di berbagai wilayah, yang saat ini menghadapi ancaman bencana.
Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi menilai, kegiatan keagamaan memiliki peran penting, dalam proses pembentukan karakter Warga Binaan.
Ia mengatakan, pembinaan tidak hanya diarahkan agar warga Blbinaan menjalani masa pidana dengan tertib, tetapi juga membangun kesadaran, untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
“Melalui kegiatan seperti ini, mereka diajak memahami, bahwa kehidupan tidak hanya tentang diri sendiri. Rasa syukur atas remisi maupun berkat yang diterima harus diikuti perubahan sikap, dan kepedulian terhadap orang lain,” katanya.
Salah satu warga binaan berinisial RR turut mengungkapkan rasa syukurnya, setelah menerima remisi pada momentum peringatan Kemerdekaan RI.
Ia menyebut, remisi tersebut menjadi sesuatu yang berarti, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarga. Dalam kesempatan itu, ia bersama jemaat turut mendoakan masyarakat yang sedang tertimpa bencana.
“Remisi ini menjadi hadiah yang sangat berarti bagi kami dan keluarga. Kami juga berdoa, agar saudara-saudara yang sedang mengalami banjir dan kebakaran diberikan kekuatan, serta perlindungan,” ucapnya.
Kebaktian semakin mendalam, melalui perenungan firman Tuhan yang diambil dari Efesus 3:14-21. Firman tersebut disampaikan oleh Majelis Diaken Gereja Protestan Maluku Jemaat Bethsan, Astrid Wenno.
Astrid mengajak jemaat, untuk meneladani doa Rasul Paulus yang memohon, agar umat memperoleh kekuatan iman dan mengalami kepenuhan kasih Kristus.
Ia menekankan, bahwa kasih kepada sesama perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk melalui perhatian dan doa bagi mereka, yang sedang menghadapi kesulitan.
Menurutnya, ungkapan syukur tidak berhenti pada penerimaan berkat bagi diri sendiri, tetapi juga dapat diwujudkan dengan mendoakan, dan menunjukkan kepedulian kepada orang lain yang membutuhkan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pembinaan kepribadian di Lapas Wahai. Melalui pembinaan berbasis keagamaan, warga binaan diharapkan tidak hanya memiliki kehidupan spiritual yang lebih baik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki empati, kepedulian sosial, serta kesiapan untuk kembali menjalani kehidupan, di tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.













