BERITA

Semester I 2026, Laba BRI Tembus Rp31,2 Triliun

Qiran
13
×

Semester I 2026, Laba BRI Tembus Rp31,2 Triliun

Sebarkan artikel ini
Kantor Pusat BRI, Jakarta. Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatatkan kinerja keuangan positif hingga akhir semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun, atau tumbuh 17,5 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan ekspansi bisnis, penguatan kualitas aset, serta peningkatan efisiensi. Hingga Juni 2026, total aset BRI Group tercatat mencapai Rp2.352 triliun, meningkat 11,7 persen secara tahunan.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, capaian tersebut menunjukkan, bahwa strategi transformasi yang dijalankan perseroan mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja bisnis dan fundamental perusahaan.

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata, untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah, memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” kata Hery dalam pemaparan kinerja BRI di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Menurut Hery, pertumbuhan ekonomi nasional yang tetap terjaga, turut memberikan ruang bagi BRI untuk mengembangkan bisnis. Pada Triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,30 persen, dengan tingkat inflasi 3,34 persen.

Kondisi tersebut juga tercermin pada aktivitas sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Indeks Bisnis UMKM meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026. Angka di atas 100 menunjukkan aktivitas UMKM masih berada dalam fase ekspansi.

Dari sisi penyaluran pembiayaan, kredit dan pembiayaan BRI Group hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp1.646 triliun, tumbuh 16,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan kredit tersebut menjadi salah satu penopang utama peningkatan aset perseroan.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.581 triliun, atau tumbuh 6,7 persen yoy. Pendapatan bunga bersih atau net interest income juga meningkat 9,9 persen, dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun.

Kinerja operasional turut menunjukkan perbaikan. Pre-Provision Operating Profit (PPOP) BRI tumbuh 12,8 persen secara tahunan menjadi Rp65,7 triliun.

Di tengah ekspansi tersebut, BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai fondasi utama bisnis. Sampai dengan akhir Triwulan II 2026, pembiayaan yang mengalir ke segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun, tumbuh 8,6 persen yoy.

Dengan capaian tersebut, porsi pembiayaan UMKM mencapai sekitar 75,1 persen dari total portofolio kredit, dan pembiayaan BRI Group.

Hery menegaskan, pengembangan bisnis BRI ke berbagai segmen tidak mengurangi fokus perseroan terhadap UMKM. Diversifikasi dilakukan, untuk memperkuat struktur bisnis sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya, pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha, dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Selain memberikan akses pembiayaan, BRI juga menjalankan berbagai program pemberdayaan, untuk membantu pelaku UMKM meningkatkan kapasitas dan skala usaha.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah mencakup lebih dari 5.700 desa. Sementara program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

Pemberdayaan juga dilakukan, melalui LinkUMKM yang telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Adapun program Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga Juni 2026.

Dukungan pembiayaan juga terus diperluas melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada periode Januari hingga Juni 2026, BRI menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

Jika dihitung secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, total penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp1.539 triliun, dan diberikan kepada sekitar 48,4 juta nasabah.

Dari aspek fundamental, kualitas kinerja BRI juga menunjukkan tren positif. Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada periode yang sama tahun 2026.

Efisiensi operasional turut membaik. Cost to Income Ratio (CIR) turun dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen. Sementara rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) membaik dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen.

Cost of Credit (CoC) juga turun dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen. Di sisi lain, Return on Asset (ROA) tetap berada di sekitar 2,7 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen menjadi 18,8 persen.

Hery menyebut, perbaikan sejumlah indikator tersebut menunjukkan ekspansi bisnis BRI tidak hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.

“Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” katanya.

Untuk mempertahankan momentum tersebut, BRI terus menjalankan agenda transformasi melalui BRIVolution Reignite. Strategi ini mencakup penguatan sumber pendanaan, pembenahan bisnis inti, sekaligus pengembangan lini bisnis baru.

Penguatan ekosistem digital menjadi salah satu bagian dari strategi tersebut, antara lain melalui pengembangan BRImo, QRIS, akuisisi merchant, BRILink Agen, penguatan klaster usaha, integrasi value chain, serta penerapan One BRI Solution.

Di sektor mikro, perseroan melakukan penyempurnaan proses bisnis, memperkuat peran tenaga pemasar atau mantri, serta meningkatkan penerapan manajemen risiko secara lebih terukur.

BRI juga mengembangkan sumber pertumbuhan baru, melalui penguatan ekosistem dan value chain, penyempurnaan produk dan strategi akuisisi nasabah, serta memperluas layanan bullion bank.

Hery mengatakan, transformasi tersebut diharapkan dapat membangun struktur pertumbuhan yang lebih beragam, sekaligus tetap menjaga kualitas bisnis.

“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan, sehingga UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas,” tandasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan BRI ke depan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan aset, kredit maupun laba, tetapi juga dari kontribusi perseroan terhadap peningkatan kapasitas pelaku usaha dan penguatan ekonomi masyarakat.

Dengan kinerja keuangan yang terus bertumbuh, fundamental yang semakin sehat, serta transformasi bisnis yang berjalan, BRI menegaskan komitmennya, untuk mempertahankan UMKM, sebagai bagian utama dari strategi pertumbuhan perseroan.

“Pada akhirnya, keberhasilan BRI tidak hanya kami ukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang juga penting adalah, seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” tandas Hery.

Example 400x400