Scroll untuk baca artikel
BERITA

Kalapas Wahai Luncurkan SAPA-BINA, Layanan Kesehatan Jemput Bola untuk WB

Qiran
74
×

Kalapas Wahai Luncurkan SAPA-BINA, Layanan Kesehatan Jemput Bola untuk WB

Sebarkan artikel ini
Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya, saat memperkenalkan program SAPA-BINA, Rabu (24/6/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya memperkenalkan program Sinergi Aksi Pelayanan Aktif bagi Warga Binaan (SAPA-BINA), sebagai upaya memperkuat pelayanan kesehatan, sekaligus memastikan hak atas kesehatan bagi seluruh warga binaan dapat terpenuhi secara optimal.

Program tersebut disosialisasikan kepada warga binaan di lingkungan Lapas Wahai, Rabu (24/6/2026), sebagai bagian dari transformasi layanan kesehatan yang diharapkan menjadi lebih aktif, cepat, dan mudah diakses.

Tersih menjelaskan, SAPA-BINA hadir dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan sistem pelayanan kesehatan, yang selama ini diterapkan.

Melalui program tersebut, petugas kesehatan tidak lagi hanya menunggu warga binaan datang ke klinik, melainkan secara aktif mendatangi blok hunian, untuk melakukan pemeriksaan dan pemantauan kondisi kesehatan.

“Secara garis besar, Perawatan Keliling atau yang kita sebut Perling adalah, tindakan taktis berupa pelayanan jemput bola, sedangkan SAPA-BINA merupakan kerangka program strategis, yang mengubah sistem layanan dari pasif menjadi aktif melalui edukasi kesehatan, digitalisasi data, serta sinergi dengan instansi kesehatan di daerah,” kata Tersih.

Menurutnya, program ini dirancang untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada warga binaan, sekaligus meningkatkan kualitas pemantauan kondisi kesehatan secara berkelanjutan.

Melalui SAPA-BINA, kata dia, pihaknya berupaya memastikan setiap warga binaan memperoleh akses layanan kesehatan yang layak, berkeadilan, dan berkesinambungan.

“Program ini juga menjadi bagian dari komitmen lembaga pemasyarakatan, dalam mewujudkan lingkungan pembinaan yang sehat, humanis, dan berorientasi pada pemenuhan hak-hak warga binaan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan,” kata Tersih.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Perawat Lapas Wahai, Fitri Rianti menjelaskan, mekanisme dan standar operasional pelaksanaan program kepada para warga binaan.

Ia mengatakan, SAPA-BINA mengedepankan prinsip pelayanan yang cepat, humanis, dan responsif terhadap kebutuhan kesehatan penghuni lapas.

“SAPA-BINA adalah, wujud komitmen kami untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih humanis, dan bebas dari stigma. Kami tidak hanya menunggu warga binaan datang berobat, tetapi aktif menyapa dan memastikan kondisi kesehatan mereka terpantau dengan baik,” ujarnya.

Program tersebut mendapatkan respons yang sangat positif dari kalangan warga binaan. Salah seorang warga binaan berinisial HB mengaku kehadiran layanan kesehatan yang datang langsung ke blok hunian membuat mereka lebih mudah menyampaikan keluhan kesehatan, tanpa harus menunggu kondisi menjadi memburuk.

“Dengan adanya SAPA-BINA, kami merasa lebih diperhatikan. Petugas kesehatan datang langsung menanyakan kondisi kami, sehingga pelayanan kesehatan menjadi lebih mudah dijangkau,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro memberikan apresiasi yang tinggi atas inovasi yang dikembangkan oleh Lapas Wahai.

Menurutnya, program tersebut sangat sejalan dengan kebijakan pemasyarakatan yang menempatkan pelayanan, pemenuhan hak, dan pembinaan yang humanis sebagai prioritas utama.

“Program SAPA-BINA merupakan langkah inovatif yang patut diapresiasi. Kami berharap pelaksanaannya dapat berlangsung secara berkelanjutan, dan menjadi contoh teladan bagi satuan kerja pemasyarakatan lainnya,” ujar Ricky.

Example 400x400