AMBON | MantikNews.com – Program pembinaan kemandirian di bidang pertanian, yang dijalankan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai kembali membuahkan hasil.
Petugas Lapas Wahai bersama warga binaan memanen 65 bonggol jagung varietas Paragon, Senin (27/7/2026), yang menjadi panen terakhir untuk musim tanam kali ini.
Kegiatan berlangsung di lahan pertanian milik Lapas, dengan melibatkan warga binaan, yang tergabung dalam kelompok kerja kebun.
Panen tersebut, sekaligus menandai berakhirnya satu siklus budidaya jagung yang selama beberapa bulan terakhir dikelola, sebagai bagian dari program pembinaan keterampilan.
Sebelumnya, pada akhir Juni 2026, Lapas Wahai telah memanen sekitar 200 bonggol jagung.
Tanaman yang dipanen pada akhir Juli ini merupakan sisa tanaman yang baru mencapai usia panen, sehingga pemetikan dilakukan secara bertahap agar hasilnya lebih maksimal.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi mengatakan, hasil panen tidak hanya menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan, tetapi juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam Lapas.
Sebagian hasil panen digunakan sebagai bahan baku dapur, sedangkan sisanya dipasarkan kepada masyarakat sekitar dengan harga Rp10.000, untuk lima bonggol jagung.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan, bahwa pembinaan kemandirian mampu menghasilkan produk yang bermanfaat, baik untuk kebutuhan internal Lapas maupun memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat,” kata La Joi.
Salah seorang warga binaan yang mengikuti program tersebut, TW mengaku, memperoleh banyak pengalaman selama terlibat dalam pengelolaan kebun.
Mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga panen, seluruh tahapan menjadi bekal keterampilan, yang diyakini akan berguna setelah kembali ke tengah masyarakat.
“Saya belajar bagaimana mengelola tanaman dengan baik. Pengetahuan ini menjadi modal berharga, untuk dimanfaatkan setelah selesai menjalani masa pembinaan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya menilai, keberhasilan program pertanian tidak hanya diukur dari jumlah hasil panen, tetapi juga dari manfaat pembinaan yang diterima warga binaan.
Menurutnya, keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti berinovasi dalam mendukung ketahanan pangan, sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif.
Ia menambahkan, setelah panen terakhir jagung selesai dilaksanakan, Lapas Wahai akan melanjutkan pemanfaatan lahan dengan membudidayakan tanaman tomat.
Program tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pembinaan kemandirian, sekaligus memberikan kontribusi terhadap kebutuhan pangan, di lingkungan Lapas maupun masyarakat sekitar.













