Scroll untuk baca artikel
BERITA

Wawali: Budaya Membaca Harus Jadi Gerakan Bersama Cegah Darurat Literasi Anak

Qiran
51
×

Wawali: Budaya Membaca Harus Jadi Gerakan Bersama Cegah Darurat Literasi Anak

Sebarkan artikel ini
Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kota Ambon Tahun 2026, yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon, di Hotel Kamari Ambon, Senin (20/7/2026). Foto-Qiran/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta menegaskan, penguatan budaya membaca harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat sebagai langkah menghadapi rendahnya minat baca anak.

Penegasan itu disampaikan Wawali, saat membuka Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Kota Ambon Tahun 2026, yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon, di Hotel Kamari Ambon, Senin (20/7/2026).

Menurut Wawali, kondisi literasi di Indonesia masih memerlukan perhatian serius. Karena itu, kegiatan Lomba Bertutur tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan anak terhadap membaca sejak usia dini.

“Kita harus menjadikan kegiatan ini sebagai pengingat, bahwa anak-anak kita sedang menghadapi tantangan besar dalam budaya membaca. Karena itu, budaya membaca harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat,” kata Wawali.

Wawali mengungkapkan, sastrawan Taufik Ismail pernah menggambarkan rendahnya budaya membaca pelajar Indonesia, dibandingkan sejumlah negara lain.

Gambaran tersebut, menurut Wawali, hingga kini masih relevan, jika melihat berbagai indikator literasi nasional.

Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat minat baca anak Indonesia baru mencapai sekitar 17,66 persen, sementara minat menonton berbagai platform digital mencapai lebih dari 91 persen.

Rata-rata masyarakat Indonesia juga hanya meluangkan waktu membaca sekitar 30 hingga 59 menit setiap hari.

“Anak-anak kita saat ini lebih banyak menghabiskan waktu menonton, dibandingkan membaca. Padahal, membaca adalah pintu utama memperoleh pengetahuan, dan membentuk karakter,” ujarnya.

Wawali mengatakan, kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mendorong peserta didik membaca sedikitnya satu buku setiap pekan perlu didukung seluruh sekolah di Kota Ambon, melalui berbagai program literasi.

Menurut Wawali, sekolah dapat membiasakan peserta didik membaca buku, kemudian menceritakan kembali isi bacaan, membuat ringkasan, resensi, hingga karya kreatif berdasarkan buku yang telah dibaca.

“Jangan berhenti pada kegiatan membaca saja. Berikan kesempatan kepada anak-anak, untuk menceritakan kembali isi buku yang mereka baca, kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan dengan bahasa mereka sendiri,” ujar Wawali.

Wawali juga meminta seluruh kepala sekolah dasar di Kota Ambon memperkuat kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM).

Wawali menyebut, pada penilaian tahun 2025 terdapat 246 sekolah yang menjadi sasaran pendataan, namun hanya 115 sekolah yang menyampaikan data sehingga berdampak pada capaian TGM Kota Ambon yang berada di angka 59,75 dan IPLM sebesar 11,74.

“Saya berharap, tahun ini capaian tersebut dapat meningkat. Seluruh sekolah harus berkolaborasi, agar budaya membaca benar-benar menjadi bagian dari kehidupan anak-anak kita,” katanya.

Wawali menilai kemampuan bertutur memiliki peran penting, dalam membangun generasi yang cerdas dan berkarakter.

Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dilatih memahami isi bacaan, mengembangkan imajinasi, membangun rasa percaya diri, sekaligus melestarikan cerita rakyat yang sarat nilai moral dan kearifan lokal.

“Anak-anak yang hebat tidak lahir begitu saja, tetapi dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini. Lomba bertutur menjadi salah satu cara menanamkan kebiasaan tersebut,” ujar Wawali.

Kepada seluruh peserta, Wawali berpesan, agar mengikuti perlombaan dengan penuh semangat, dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan.

“Kalian semua yang hadir hari ini adalah pemenang, karena telah berani membaca, berani belajar, dan berani tampil di depan umum. Tunjukkan kemampuan terbaik, serta junjung tinggi sportivitas,” pesan Wawali.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon, Neles Moniharapon. Foto-Qiran/MANTIK

Sementara itu, laporan panitia penyelenggara yang dibacakan Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ambon, Neles Moniharapon menjelaskan, Lomba Bertutur merupakan program pembinaan literasi yang bertujuan meningkatkan minat baca, melestarikan budaya lokal, serta mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum bagi siswa SD/MI.

Tahun ini sebanyak 46 peserta mengikuti seleksi awal, melalui video bertutur berdurasi lima hingga tujuh menit. Setelah proses seleksi sesuai petunjuk teknis, sebanyak 30 peserta dinyatakan lolos, dan berhak mengikuti babak final.

“Kami berharap, kegiatan tersebut mampu meningkatkan kemampuan literasi, membentuk karakter peserta didik, menumbuhkan rasa percaya diri, serta memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya membaca dan warisan budaya bangsa,” harap Moniharapon.

Example 400x400