AMBON | MantikNews.com – Suasana khidmat dan penuh penghayatan menyelimuti Gereja Ebenhaezer di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, saat seluruh warga binaan beragama Kristen mengikuti ibadah Sakramen Perjamuan Kudus, Minggu (5/7/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan kerohanian, yang dilaksanakan secara rutin untuk memperkuat mental, spiritual, dan membangun karakter warga binaan selama menjalani masa pidana.
Pelaksanaan Perjamuan Kudus menjadi agenda triwulanan yang difasilitasi pihak Lapas Wahai bekerja sama dengan Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Bethsan Wahai.
Melalui kegiatan ini, warga binaan diajak merefleksikan makna pengorbanan dan kasih Kristus, memperbarui hubungan dengan Tuhan, serta menumbuhkan semangat tulus untuk memperbaiki diri.
Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, pembinaan kepribadian melalui pendekatan spiritual menjadi salah satu pilar utama, dalam sistem pemasyarakatan.
Menurutnya, pemenuhan hak beribadah bagi warga binaan harus diiringi upaya membangun kesadaran moral, sehingga mereka memiliki bekal yang cukup, saat kembali bermasyarakat nanti.
“Pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan dan keterampilan kerja, tetapi juga menyentuh aspek mental dan spiritual. Melalui ibadah seperti Perjamuan Kudus ini, warga binaan diharapkan mampu mengendalikan diri, menumbuhkan rasa syukur, dan memiliki motivasi yang kuat untuk berubah menjadi lebih baik,” ujar Tersih.
Ibadah dipimpin langsung oleh Pendeta GPM Jemaat Bethsan Wahai, Elchris Latuny, dengan khotbah yang merujuk pada ayat Alkitab 1 Korintus 11:23-26.
Dalam penyampaiannya, ia mengajak seluruh warga binaan menjadikan momen Perjamuan Kudus, sebagai titik balik pertobatan dan pembaruan hidup.
“Perjamuan Kudus adalah, tanda kasih dan pengorbanan Kristus yang membawa pemulihan. Di tempat ini, mari kita buka hati sepenuhnya, tinggalkan masa lalu yang kelam, serta berkomitmen hidup dalam ketaatan dan pertobatan yang sungguh-sungguh demi masa depan yang lebih baik dan diberkati,” tegasnya.
Prosesi pemecahan roti dan minum dari cawan Perjamuan Kudus berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan.
Sejumlah warga binaan tampak larut dalam doa pribadi, serta refleksi mendalam atas perjalanan hidup yang telah dilalui.
Salah seorang warga binaan berinisial AS mengaku, mendapatkan kekuatan dan harapan baru, setelah mengikuti ibadah tersebut.
“Saya sangat bersyukur dan hati terasa damai sekali. Ibadah ini mengingatkan saya, bahwa meskipun saat ini berada di lapas, kasih serta pengampunan Tuhan tetap nyata dan menyertai. Ini menjadi dorongan kuat bagi saya, untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Selain agenda Perjamuan Kudus, Lapas Kelas III Wahai secara konsisten menyelenggarakan berbagai program pembinaan kerohanian berkelanjutan, antara lain ibadah pembukaan dan penutupan bulan, ibadah secara virtual, serta kunjungan pastoral secara berkala.
Melalui rangkaian kegiatan ini, pihak lapas berharap warga binaan memiliki iman yang semakin kokoh, karakter yang lebih positif, serta kesiapan utuh, untuk kembali diterima dan berkontribusi di tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.













