Scroll untuk baca artikel
BERITA

Lapas Wahai Rujuk Warga Binaan ke Puskesmas untuk Penanganan Ulkus Diabetik

Qiran
48
×

Lapas Wahai Rujuk Warga Binaan ke Puskesmas untuk Penanganan Ulkus Diabetik

Sebarkan artikel ini
Lapas Kelas III Wahai merujuk seorang warga binaan berinisial MH ke Puskesmas Perawatan Wahai, Senin (6/7/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai merujuk seorang warga binaan berinisial MH ke Puskesmas Perawatan Wahai guna mendapatkan penanganan medis lanjutan, setelah terdeteksi mengalami komplikasi ulkus diabetik.

Langkah ini diambil sebagai bentuk pemenuhan hak layanan kesehatan bagi warga binaan, sekaligus memastikan pasien memperoleh perawatan yang sesuai dengan kondisi medisnya.

Proses rujukan dilaksanakan pada Senin (6/7/2026), menyusul temuan petugas kesehatan lapas, atas luka kronis yang memerlukan penanganan lebih intensif.

Warga binaan tersebut dibawa ke Puskesmas, dengan pengawalan petugas pengamanan lapas, serta didampingi tenaga kesehatan resmi.

Perawat Lapas Kelas III Wahai, Fajar Pradhana Wisady menjelaskan, keputusan merujuk MH diambil setelah pemeriksaan menunjukkan adanya luka terbuka di celah bokong yang tak kunjung sembuh, yang diduga merupakan komplikasi ulkus diabetik. Kondisi ini membuat pasien tidak dapat duduk dan hanya sanggup berbaring.

“Saat pemeriksaan rutin, kami menemukan luka terbuka yang tak kunjung sembuh, sehingga yang bersangkutan tidak bisa duduk dan hanya bisa berbaring.

Mengingat keterbatasan peralatan di klinik lapas untuk menangani infeksi kronis yang awalnya diduga berupa bisul ini, kami segera merekomendasikan rujukan, agar pasien mendapatkan perawatan yang lebih spesifik,” jelas Fajar.

Lebih lanjut, ia menyampaikan pasien memerlukan tindakan debridemen atau pembersihan jaringan mati, serta pemantauan kadar gula darah secara berkala, layanan yang membutuhkan fasilitas kesehatan lebih lengkap.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya menegaskan, rujukan ini merupakan prosedur mendesak demi mencegah kondisi pasien semakin memburuk.

Ia menambahkan, pelayanan kesehatan warga binaan adalah bagian tak terpisahkan dari komitmen Lapas, dalam memenuhi hak asasi setiap penghuni.

“Kami tidak ingin mengambil risiko. Ulkus diabetik memerlukan penanganan intensif tenaga medis dan fasilitas yang memadai, guna mencegah infeksi yang lebih parah. Ini adalah komitmen kami, agar hak kesehatan warga binaan terpenuhi secara layak,” tegas Tersih.

Ia juga menyampaikan kelancaran proses rujukan berkat sinergi, yang telah terjalin erat antara Lapas Wahai dan Puskesmas Perawatan Wahai.

Kolaborasi ini dinilai sangat krusial, mengingat lokasi Lapas Wahai yang cukup jauh dari ibu kota Kabupaten Maluku Tengah.

Selain kerja sama rujukan, Lapas Wahai terus memperkuat layanan kesehatan melalui program SAPA-BINA, yang secara rutin menyasar blok hunian, untuk deteksi dini keluhan kesehatan warga binaan.

Langkah ini diharapkan, dapat mencegah gangguan kesehatan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Saat ini, MH masih menjalani perawatan intensif di ruang rawat inap Puskesmas Perawatan Wahai, dengan pengawasan tenaga medis dan petugas pengamanan.

Pihak Lapas Wahai berharap, kondisi kesehatannya segera membaik, sehingga dapat kembali menjalani masa pidana dengan baik.

Tindakan cepat ini menegaskan bahwa keterbatasan fasilitas kesehatan di lingkungan lapas tidak menjadi penghalang, untuk memberikan pelayanan medis yang layak dan menjamin hak kesehatan setiap warga binaan.

Example 400x400