Scroll untuk baca artikel
BERITA

Layangan Karya Warga Binaan Lapas Wahai Laris Manis di Musim Angin

Qiran
48
×

Layangan Karya Warga Binaan Lapas Wahai Laris Manis di Musim Angin

Sebarkan artikel ini
Warga binaan di Lapas Kelas III Wahai memproduksi layangan yang banyak diminati masyarakat. Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Musim layangan yang tiba, di kawasan pesisir utara Pulau Seram membawa berkah tersendiri bagi para warga binaan, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Kabupaten Maluku Tengah.

Melalui program pembinaan kemandirian, mereka memproduksi layangan yang banyak diminati masyarakat, sekaligus menjadi sumber penghasilan dan bekal keterampilan usaha yang berguna, setelah nantinya menyelesaikan masa pidana.

Di dalam bengkel kerja Lapas Wahai, para warga binaan tampak sibuk meraut bambu, menyusun rangka, hingga merekatkan kertas minyak menjadi layangan aduan, atau gelasan yang berkualitas.

Di bawah pendampingan petugas, belasan hingga puluhan layangan diproduksi setiap harinya, guna memenuhi permintaan masyarakat yang terus meningkat seiring datangnya musim angin.

Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian, yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan bernilai ekonomis, melalui pemanfaatan bahan baku yang tersedia secara lokal.

“Kami terus mendorong program-program yang menyentuh langsung peluang pasar di luar sana. Begitu melihat tren musim layangan tiba, kami langsung memfasilitasi warga binaan agar tetap produktif berkarya,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Meski demikian, Tersih menegaskan, seluruh kegiatan tetap dilaksanakan dengan mengedepankan aturan, dan aspek keamanan yang berlaku di dalam lingkungan Lapas.

Warga binaan hanya diperbolehkan memproduksi layangan, sebagai bagian dari proses pembinaan, namun dilarang menggunakannya, untuk bermain tanpa izin di kawasan lembaga pemasyarakatan.

“Warga binaan di sini diperbolehkan membuat layangan sebagai bekal keterampilan dan upaya mendukung pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, mereka tidak diperbolehkan bermain layangan tanpa izin di lingkungan Lapas. Fokus kami adalah, pada produktivitas dan pembinaan kemandirian. Aturan tetaplah aturan, dan situasi keamanan serta ketertiban di Lapas adalah prioritas utama,” tegasnya.

Staf Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, George Riupassa menambahkan, tingginya minat dan permintaan dari masyarakat menjadi motivasi tersendiri bagi para warga binaan, untuk terus berkarya dengan sebaik-baiknya.

“Ini menjadi bukti, bahwa mereka tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan yang produktif. Ketika musim layangan tiba, kami arahkan mereka untuk membuat kerajinan ini. Hasil dari penjualannya menjadi tambahan pendapatan bagi mereka, sekaligus turut mendukung geliat produk UMKM lokal,” katanya.

Layangan yang diproduksi dikerjakan secara teliti dan cermat, mulai dari pembentukan rangka bambu, pemasangan motif berwarna-warni, hingga penyeimbangan tali agar layangan dapat terbang dengan stabil dan baik.

Produk tersebut dipasarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp7.000 hingga Rp10.000, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desain yang dibuat.

Selain harganya yang terjangkau, layangan buatan warga binaan juga banyak diminati, karena memiliki rangka yang dinilai lebih kokoh dan awet, dibandingkan produk pabrikan.

Tidak sedikit pula masyarakat yang memesan secara khusus, karena menganggap kualitas karya mereka jauh lebih baik.

Salah seorang warga binaan berinisial HS mengaku, hasil penjualan layangan sangat membantu dirinya dan rekan-rekan, dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari selama berada di dalam Lapas.

“Alhamdulillah, uang yang kami peroleh bisa kami gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berbelanja di koperasi Lapas,” ujarnya.

Sementara itu, warga binaan lainnya, IH, mengatakan bahwa kegiatan tersebut memberikan harapan baru bagi dirinya dan teman-temannya.

“Kegiatan ini mengajarkan kami bahwa meskipun raga kami terkurung di sini, kami tetap bisa memberikan kontribusi positif dan karya nyata bagi masyarakat di luar sana,” ungkapnya.

Program produksi layangan musiman ini menjadi salah satu bentuk pembinaan yang tidak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan jiwa kewirausahaan kepada para warga binaan.

Diharapkan, bekal kemampuan dan pengalaman tersebut dapat menjadi modal berharga bagi mereka, untuk kembali hidup mandiri, serta diterima dengan baik di tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana.

Example 400x400