AMBON | MantikNews.com – Suasana penuh sukacita dan kebersamaan mewarnai kegiatan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (21/6/2026).
Warga binaan beragama Kristen mengikuti ibadah di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai, yang dipimpin oleh Majelis Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Bethsan, sebelum melaksanakan kegiatan panen sayuran kangkung hidroponik hasil budidaya mereka sendiri.
Ibadah berlangsung khidmat dengan pembacaan firman Tuhan yang diambil dari Kitab Mazmur 137.
Dalam khotbahnya, warga binaan diajak untuk merefleksikan makna kesetiaan dan pengharapan di tengah berbagai tantangan kehidupan, sekaligus terus memelihara rasa syukur atas penyertaan Tuhan dalam setiap proses kehidupan yang dijalani.
Usai ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan panen sekitar 15 kilogram kangkung hidroponik di kebun yang dikelola warga binaan, melalui program pembinaan kemandirian.
Proses panen dilakukan bersama Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya, serta jajaran Majelis GPM Jemaat Bethsan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bukti nyata, bagaimana pembinaan kepribadian dan kemandirian dapat berjalan secara beriringan dalam proses pemasyarakatan.
“Pembinaan mental dan keterampilan harus berjalan beriringan. Ibadah memperkuat karakter warga binaan, sedangkan program kemandirian pangan melalui pertanian hidroponik memberi mereka bekal keterampilan mandiri, yang kelak dapat digunakan saat kembali ke masyarakat,” kata Noya.
Menurutnya, keberhasilan panen tersebut merupakan hasil dari kerja keras, serta komitmen tinggi warga binaan, dalam mengikuti serangkaian program pembinaan, yang telah disiapkan oleh pihak Lapas.

Sementara itu, salah satu Majelis GPM Jemaat Bethsan, Diaken J. Patty menyampaikan apresiasi yang tinggi atas semangat dan perubahan positif, yang ditunjukkan warga binaan selama mengikuti berbagai program pembinaan.
“Tuhan selalu menyertai umat-Nya di mana pun mereka berada. Hari ini kita melihat bukti nyata pemulihan itu. Tidak hanya melalui puji-pujian yang dipanjatkan dalam ibadah, tetapi juga dari tangan-tangan warga binaan yang mampu menghasilkan sayuran segar dan bermanfaat. Kami sangat mengapresiasi hal tersebut,” ujarnya.
Rasa syukur juga disampaikan oleh salah satu warga binaan berinisial AM. Ia mengaku, kegiatan ibadah dan pertanian hidroponik memberikan dampak positif yang besar bagi dirinya, selama menjalani masa pembinaan.
“Puji Tuhan, melalui ibadah hati kami menjadi lebih tenang. Kami juga senang, karena bisa berkarya dengan menanam sayuran yang tumbuh subur. Merawat tanaman memberikan kami kesibukan yang positif sekaligus harapan baru,” ungkapnya.
Momentum panen kangkung hidroponik tahun ini menjadi semakin bermakna, karena bertepatan dengan peringatan Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap tanggal 21 Juni.
Peringatan tersebut menjadi simbol penghargaan terhadap para pelaku di sektor pertanian, termasuk warga binaan yang turut berkontribusi, melalui aktivitas produktif di lingkungan pemasyarakatan.
Melalui program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), Lapas Wahai terus mengembangkan berbagai kegiatan pertanian modern berbasis hidroponik, sebagai bagian dari upaya pembinaan kemandirian warga binaan.
Program tersebut juga merupakan bentuk dukungan nyata terhadap kebijakan pemerintah, dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan daerah.
Selain memberikan manfaat ekonomi dan meningkatkan produktivitas, kegiatan pertanian hidroponik ini diharapkan mampu membekali warga binaan, dengan keterampilan yang berguna dan dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
Keberhasilan panen kangkung hidroponik ini, sekaligus menjadi bukti bahwa proses pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan hukum, tetapi juga mendorong lahirnya individu yang lebih produktif, mandiri, dan siap berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya, sejalan dengan motto “Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat bagi Masyarakat”.













