Scroll untuk baca artikel
BERITA

Ibadah di Lapas Wahai Teguhkan Harapan dan Semangat Perubahan Warga Binaan

Qiran
61
×

Ibadah di Lapas Wahai Teguhkan Harapan dan Semangat Perubahan Warga Binaan

Sebarkan artikel ini
Warga Binaan beragama Kristen di Lapas Wahai mengikuti ibadah pembinaan kerohanian, Minggu (14/6/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Suasana penuh khidmat menyelimuti Gereja Ebenhaezer di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, saat sejumlah Warga Binaan beragama Kristen mengikuti ibadah pembinaan kerohanian, Minggu (14/6/2026).

Melalui perenungan Firman Tuhan yang diambil dari Kitab Kisah Para Rasul 16:13–18, mereka diajak memaknai arti pertobatan, pemulihan, dan harapan baru sebagai bagian dari proses perubahan diri selama menjalani masa pembinaan.

Ibadah yang dipimpin oleh Majelis Jemaat, Diaken J. Patty, berlangsung dengan penuh sukacita.

Dalam khotbahnya, Patty mengajak seluruh Warga Binaan untuk merenungkan bagaimana Tuhan membuka hati seseorang, guna menerima kebenaran dan mengalami perubahan hidup yang nyata.

Menurut Patty, kisah pelayanan Rasul Paulus yang mengusir roh tenungan dari seorang hamba perempuan menjadi gambaran jelas mengenai kuasa Tuhan, yang sanggup membebaskan manusia dari segala belenggu kehidupan.

“Kami mengajak Warga Binaan untuk memahami perjalanan pelayanan Rasul Paulus yang tetap setia menyampaikan kebenaran Tuhan, meskipun menghadapi beragam tantangan. Kisah ini menjadi penguatan bahwa iman, keteguhan hati, dan ketaatan dapat menjadi dasar yang kokoh dalam menjalani setiap proses kehidupan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, pembinaan kerohanian merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembentukan karakter Warga Binaan.

Menurutnya, pembinaan yang diberikan tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan dan kedisiplinan semata, tetapi juga menyentuh sisi mental dan spiritual mereka.

“Pembinaan tidak hanya berfokus pada keterampilan dan kedisiplinan, tetapi juga harus menyentuh aspek mental dan spiritual. Melalui kegiatan seperti ini, Warga Binaan diharapkan memperoleh penguatan nilai-nilai kehidupan serta motivasi untuk terus memperbaiki diri,” kata Tersih.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, Merpaty Susana Mouw menjelaskan, bahwa kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara rutin merupakan bagian dari program pembinaan kepribadian, yang terus dikembangkan di lingkungan lembaga pemasyarakatan.

Ia menambahkan, pembinaan spiritual memiliki peran sangat penting dalam membantu Warga Binaan membangun ketenangan batin, serta menumbuhkan pola pikir yang lebih positif selama menjalani masa pidana.

“Kegiatan kerohanian tidak hanya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga membantu membangun ketenangan batin, serta pola pikir yang lebih positif dalam menjalani masa pembinaan,” ungkap Merpaty.

Melalui kegiatan tersebut, pihak Lapas Wahai berharap para Warga Binaan dapat melakukan refleksi diri, memperkuat komitmen untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik, serta mempersiapkan diri guna kembali berintegrasi dengan masyarakat setelah menyelesaikan masa pidana nanti.

Pembinaan kerohanian pun diharapkan terus menjadi sarana yang efektif dalam membentuk karakter dan menumbuhkan harapan baru bagi setiap Warga Binaan.

Example 400x400