Connect with us

BERITA

Menkomdigi Dorong Generasi Muda Lulusan Perguruan Tinggi Jadi Penjaga Ruang Digital

Published

on

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid saat memberikan inspiring speech pada acara wisuda Telkom University, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/4/2026). (Foto: HMS_Komdig)

Bandung | MantikNews.com — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan pentingnya peran negara dalam melindungi masyarakat dari risiko di ruang digital, sekaligus mendorong generasi muda, khususnya lulusan perguruan tinggi, menjadi garda depan penjaga ekosistem digital nasional.

Menkomdigi Meutya Hafid dalam acara wisuda Telkom University, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/4/2026).

Example 400x400

Hal tersebut disampaikan Meutya saat memberikan inspiring speech pada acara wisuda Telkom University, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/4/2026).

Dalam pidatonya, Meutya menyoroti perubahan tantangan di era digital yang kini tidak lagi terletak pada akses informasi, melainkan pada kualitas dan validitasnya. Fenomena ini diperparah dengan maraknya misinformasi di tengah derasnya arus data.

“Di era post-truth, tantangan kita bukan lagi pada akses informasi, tetapi pada kualitasnya. Para lulusan harus menjadi agen perubahan dan pandu literasi digital di masyarakat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia—yang mencapai ratusan juta orang dengan durasi penggunaan yang tinggi—membuat risiko paparan konten negatif semakin besar. Bahkan, menurut laporan World Economic Forum, misinformasi kini menjadi salah satu tantangan global yang serius.

Sebagai respons, pemerintah telah mengambil langkah melalui regulasi adaptif, termasuk kebijakan dalam PP TUNAS yang membatasi akses platform digital berisiko bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini bertujuan melindungi generasi muda dari dampak negatif teknologi, seperti kecanduan digital dan paparan konten berbahaya.

“Kami ingin para wisudawan juga menjadi duta-duta literasi digital yang membantu menjaga generasi muda agar mendapatkan manfaat terbaik dari ruang digital,” tegasnya.

Meutya juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), yang dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan. Ia menekankan bahwa adopsi teknologi harus diiringi dengan tanggung jawab, etika, dan prinsip keamanan.

“Kita harus memastikan penggunaan AI dilakukan dengan kehati-hatian, transparansi, dan berorientasi pada kepentingan manusia,” katanya.

Menurutnya, pengelolaan ruang digital nasional tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran aktif generasi muda sebagai pengguna sekaligus penggerak perubahan.

Ia mengingatkan berbagai risiko yang muncul di ruang digital, mulai dari manipulasi algoritma, penyebaran konten negatif, hingga dampak sosial budaya yang dapat merusak nilai-nilai masyarakat.

“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Perlu kolaborasi semua pihak untuk menjaga ruang digital tetap sehat,” ujarnya.

Menutup pidatonya, Meutya menegaskan bahwa tanggung jawab lulusan tidak berhenti pada pencapaian akademik, melainkan berlanjut pada kontribusi nyata di masyarakat.

Ia berharap para lulusan mampu menjadi agen perubahan yang menjaga ruang digital Indonesia agar lebih aman, beretika, dan berdaya saing di tingkat global.

Example 400x400
Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *