AMBON | MantikNews.com – Warga binaan dan pegawai Kristiani di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai mengikuti Sakramen Perjamuan Kudus di Gereja Ebenhaezer, Minggu (4/10/2026). Ibadah yang berlangsung mulai pukul 07.00 WIT itu menjadi ruang refleksi, dan penguatan iman bagi warga binaan selama menjalani pembinaan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya turut mengikuti ibadah tersebut. Ia menyampaikan, bahwa pemenuhan hak beribadah menjadi bagian dari komitmen lapas, termasuk melalui kegiatan pembinaan kerohanian.
“Pembinaan kerohanian adalah pilar utama dalam pemasyarakatan. Kami ingin memastikan, bahwa meski raga terbatasi oleh dinding lapas, jiwa dan iman warga binaan tetap memiliki ruang, untuk bertumbuh. Proses hukum yang mereka jalani adalah bentuk keadilan di dunia, tetapi di mata Tuhan, selalu ada kesempatan kedua bagi siapa saja yang mau bertobat dan hidup benar,” ujar Tersih.
Salah seorang warga binaan berinisial RR mengaku bersyukur, dapat mengikuti sakramen tersebut. Baginya, ibadah itu membawa ketenangan, sekaligus menjadi pengingat untuk terus berusaha menjalani perubahan.
“Ikut Perjamuan Kudus di dalam lapas memberikan rasa damai yang luar biasa. Roti dan anggur yang kami terima hari ini jadi pengingat, untuk tidak menyerah dan terus memperbaiki diri,” kata RR.
Ibadah dipimpin Pendeta Elkris Latuny dari Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Bethsan. Dalam khotbahnya, ia mengangkat Mazmur 99 sebagai bahan perenungan tentang Tuhan yang kudus dan adil, sekaligus mendengar serta mengampuni.
“Mazmur 99 mengingatkan kita, bahwa Tuhan itu Raja yang Mahakudus dan adil, namun Dia juga Allah yang mendengarkan dan mengampuni. Di hadapan-Nya, tidak ada tempat yang terlalu jauh atau tembok yang terlalu tinggi untuk dijangkau oleh kasih-Nya. Melalui Sakramen Perjamuan Kudus ini, roti dan anggur menjadi lambang pemulihan. Setiap warga binaan diajak untuk meninggalkan masa lalu, memeluk pengampunan, dan melangkah dalam kehidupan baru yang kudus serta berpengharapan,” tutur Pendeta Elkris.
Kegiatan ditutup dengan doa pemulihan dan penumpangan tangan untuk pemberkatan. Rangkaian ibadah tersebut diharapkan, dapat memberi keteguhan bagi warga binaa, untuk menjalani masa pembinaan dan menyongsong masa depan dengan harapan.













