AMBON | MantikNews.com – Kelompok masyarakat usia produktif menjadi kelompok yang paling banyak terdampak Tuberkulosis (TBC) di Kota Ambon. Kondisi ini menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon, karena penyakit menular tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan individu, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan produktivitas masyarakat.
Data Dashboard Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kementerian Kesehatan tahun 2026 mencatat sebanyak 1.542 notifikasi TBC di Kota Ambon. Sementara berdasarkan pemetaan kasus tahun 2025, Kecamatan Sirimau menempati salah satu wilayah dengan jumlah penemuan tertinggi, yakni 620 kasus.
“Tingginya temuan TBC pada kelompok usia produktif membutuhkan perhatian serius, melalui peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kesehatan,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, dr. Johan Stefanus Norimarna, saat dihubungi dari Ambon, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyerang siapa saja. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa upaya pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan pengobatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran untuk mengenali gejala dan segera melakukan pemeriksaan.
Ia menjelaskan, perkembangan kasus TBC di Ambon dalam beberapa tahun terakhir masih menunjukkan angka yang cukup tinggi. Pada 2023 tercatat 1.935 kasus, kemudian meningkat menjadi 2.296 kasus pada 2024, dan pada 2025 mencapai 2.212 kasus.
“Sementara itu, data SITB tahun 2026 mencatat 1.542 notifikasi, yang terdiri dari 1.521 kasus TBC Sensitif Obat (TBC-SO), dan 21 kasus TBC Resisten Obat (TBC-RO),” ungkap Johan.
Dari keseluruhan notifikasi tersebut, sebanyak 1.338 pasien telah memulai pengobatan. Selain itu, terdapat 6.233 orang yang teridentifikasi sebagai terduga TBC, dengan 5.197 orang telah menjalani pemeriksaan sesuai standar.
Johan menilai, tingginya angka temuan tersebut harus diikuti dengan penguatan kegiatan skrining dan pelacakan kontak. Orang-orang yang tinggal serumah maupun memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC perlu mendapatkan perhatian, melalui pemeriksaan kesehatan.
“Langkah tersebut penting, untuk mengetahui kemungkinan penularan sejak awal, sekaligus mencegah munculnya kasus baru di lingkungan keluarga maupun Masyarakat,” ujar dia.
Ia juga mengingatkan, bahwa masyarakat tidak boleh menganggap remeh batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, demam, maupun keringat berlebihan pada malam hari. Gejala-gejala tersebut perlu diperiksakan kepada tenaga Kesehatan, agar penyebabnya dapat diketahui secara tepat.
Di sisi lain, pasien yang sedang menjalani pengobatan harus memiliki komitmen, untuk menyelesaikan seluruh tahapan terapi sesuai petunjuk medis. Penghentian obat tanpa arahan tenaga kesehatan dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan resistensi obat.
Johan berharap, keterlibatan masyarakat dalam mengenali gejala, melakukan pemeriksaan, serta mendukung pasien menjalani pengobatan dapat membantu menekan penyebaran TBC.
“Dengan demikian, pengendalian TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan kepedulian keluarga, lingkungan kerja, serta seluruh lapisan masyarakat,” tutup Johan.













