BERITA

Maulid Nabi di Lapas Wahai Jadi Momentum Penguatan Pembinaan Keagamaan

Qiran
26
×

Maulid Nabi di Lapas Wahai Jadi Momentum Penguatan Pembinaan Keagamaan

Sebarkan artikel ini
Lapas Kelas III Wahai peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, yang berlangsung di lapangan terbuka blok lapas, Rabu (26/8/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, sebagai sarana memperkuat pembinaan keagamaan bagi warga binaan.

Kegiatan yang berlangsung di lapangan terbuka blok Lapas, Rabu (26/8/2026), tersebut diisi dengan tausiah dan doa bersama serta diikuti jajaran Lapas, perwakilan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Seram Utara, pegawai dan Warga Binaan.

Peringatan hari besar Islam itu berlangsung dalam suasana khidmat. Selain menjadi bagian dari program pembinaan kerohanian, kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk mengajak warga binaan melakukan refleksi, sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan dan akhlak Nabi Muhammad SAW.

Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW sangat relevan diterapkan, dalam proses pembinaan Warga Binaan.

Menurutnya, kehidupan di dalam lapas harus menjadi kesempatan untuk membangun karakter, memperbaiki perilaku dan mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.

“Maulid Nabi mengingatkan kita untuk terus meneladani akhlak Rasulullah, seperti kasih sayang, saling menghormati dan menjaga persaudaraan. Masa menjalani pembinaan hendaknya dimanfaatkan, untuk melakukan introspeksi dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik,” ujar Tersih.

Ia juga mengajak seluruh jajaran dan warga binaan, untuk menjaga kebersamaan di tengah keberagaman yang ada di lingkungan lapas.

Perbedaan latar belakang, kata dia, tidak boleh menjadi penghalang, untuk saling menghargai dan mendukung proses perubahan ke arah yang lebih positif.

Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi yang juga Ketua Majelis Taklim Masjid At-Taubah Lapas Wahai mengatakan, pembinaan keagamaan dilakukan secara berkelanjutan, dan tidak hanya melalui peringatan hari besar keagamaan.

Ia menyebut kegiatan Maulid Nabi merupakan salah satu ruang bagi warga binaan, untuk memperdalam pemahaman agama, sekaligus membangun suasana pembinaan yang lebih religius.

“Antusiasme warga binaan dalam mengikuti kegiatan ini menjadi hal positif. Kami berharap, kegiatan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membantu membentuk perubahan sikap, dan menjadi bagian dari proses perbaikan diri,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala KUA Kecamatan Seram Utara, Rusli Salating turut memberikan tausiah dengan tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, untuk Membangun Pribadi yang Unggul dan Berdaya Guna.”

Rusli mengingatkan, bahwa peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi kesempatan untuk mengevaluasi diri, dan mengimplementasikan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menekankan, bahwa kualitas seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kedudukan maupun materi, melainkan juga oleh akhlak dan cara memperlakukan orang lain.

“Mari kita menjadikan Maulid Nabi, sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Keteladanan Rasulullah harus diwujudkan melalui perilaku yang baik, kepedulian terhadap sesama dan kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan,” ajaknya.

Salah seorang warga binaan, AG mengaku, kegiatan tersebut memberikan kesan tersendiri. Menurutnya, pesan yang disampaikan dalam peringatan Maulid menjadi pengingat, bahwa masa menjalani pidana dapat dimanfaatkan, sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

“Kami bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini. Pesan yang disampaikan membuat kami semakin sadar, untuk belajar dari kesalahan dan berusaha menjadi lebih baik,” tuturnya.

Selain tausiah dan doa bersama, kegiatan tersebut juga diwarnai penyerahan dokumen bukti registrasi legalitas Majelis Taklim Lapas Wahai, yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Penyerahan dokumen tersebut menjadi bagian penting, dalam penguatan kelembagaan kegiatan pembinaan keagamaan, di lingkungan Lapas Wahai.

Melalui kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H tersebut, Lapas Wahai berkomitmen menjadikan pembinaan kerohanian sebagai salah satu instrumen, dalam membentuk warga binaan yang memiliki keimanan, ketakwaan dan karakter positif.

Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung kesiapan mereka, untuk kembali berintegrasi dan berkontribusi secara baik di tengah masyarakat.

Example 400x400