BERITA

Lapas Wahai Tanamkan Nilai Spiritual untuk Bentuk Karakter Warga Binaan

Qiran
31
×

Lapas Wahai Tanamkan Nilai Spiritual untuk Bentuk Karakter Warga Binaan

Sebarkan artikel ini
Ibadah Minggu bersama warga binaan dan petugas beragama Kristen, di Gereja Ebenhaizer Lapas Wahai, Minggu (18/10/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus mengupayakan pembentukan karakter warga binaan, lewat kegiatan pembinaan keagamaan. Upaya tersebut diwujudkan melalui ibadah Minggu bersama warga binaan dan petugas beragama Kristen, di Gereja Ebenhaizer Lapas Wahai, Minggu (18/10/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemasyarakatan dalam membangun kesadaran diri, memperkuat nilai moral, serta mendorong warga binaan menjalani proses perubahan ke arah yang lebih positif selama berada di dalam Lapas.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi mengatakan, pembinaan spiritual memiliki peran dalam membantu warga binaan memaknai pengalaman hidup, sekaligus menjadikannya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Menurutnya, nilai-nilai yang diperoleh melalui ibadah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk menumbuhkan sikap saling menghormati, dan kesungguhan dalam menjalani pembinaan.

La Joi menegaskan, perubahan perilaku membutuhkan kemauan dari dalam diri setiap warga binaan. Karena itu, pembinaan kerohanian diharapkan dapat menjadi salah satu landasan, untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.

Senada dengan itu, Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya menyampaikan, bahwa keberhasilan pembinaan tidak hanya diukur dari kepatuhan terhadap tata tertib, tetapi juga dari perkembangan sikap, karakter, dan kesadaran Warga Binaan.

Ia berharap, melalui kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan, warga binaan dapat memperoleh dorongan moral untuk meninggalkan perilaku negatif, membangun pola pikir yang lebih baik, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kembali ke masyarakat.

“Melalui pelaksanaan ibadah secara rutin, Lapas Wahai berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berfokus pada aspek kedisiplinan, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual dan pembentukan kepribadian. Dengan demikian, warga binaan diharapkan memiliki kesiapan mental dan moral, untuk kembali berperan secara positif di tengah keluarga maupun Masyarakat,” harap dia.

Dukungan terhadap pembinaan kepribadian tersebut juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro. Ia menilai pembinaan spiritual merupakan salah satu unsur penting, dalam sistem pemasyarakatan yang bertujuan mendorong perubahan perilaku dan mempersiapkan warga binaan, untuk kembali menjalani kehidupan sosial.

Ricky berharap, kegiatan keagamaan di lingkungan Lapas dapat memperkuat nilai-nilai moral, meningkatkan kesadaran pribadi, serta menumbuhkan optimisme warga binaan dalam menatap masa depan.

“Dengan bekal tersebut, warga binaan diharapkan mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan lingkungan sosial, ketika kembali ke tengah Masyarakat,” kata Ricky.

Dalam ibadah Minggu tersebut, firman Tuhan disampaikan Diaken Ny. A. Matulessy dari Majelis Jemaat Bethsan Wahai dengan mengambil bacaan Alkitab dari Yesaya 40:27–31.

Melalui renungan tersebut, Matulessy mengajak jemaat, untuk memahami bahwa keterbatasan dan kesulitan hidup tidak seharusnya menghilangkan harapan. Ia mengingatkan, bahwa Tuhan senantiasa memberikan kekuatan kepada mereka yang merasa lemah dan tetap menaruh kepercayaan kepada-Nya.

Pesan tersebut menjadi penguatan bagi warga binaan, agar tetap memiliki semangat untuk menjalani proses pembinaan. Masa pidana yang sedang dijalani diharapkan tidak menjadi penghalang untuk melakukan introspeksi, memperbaiki kesalahan, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Example 400x400