BERITA

Lapas Wahai Bekali Warga Binaan Pengetahuan Pemasaran Hasil Kerajinan

Qiran
17
×

Lapas Wahai Bekali Warga Binaan Pengetahuan Pemasaran Hasil Kerajinan

Sebarkan artikel ini
Warga binaan Lapas Kelas III Wahai dibekali pemahaman mengenai produksi dan distribusi barang, Senin (28/9/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai dibekali pemahaman mengenai produksi dan distribusi barang, sebagai bagian dari upaya mengembangkan keterampilan, serta kemandirian ekonomi, Senin (28/9/2026).

Edukasi yang berlangsung di Beranda Mesra Lapas Wahai tersebut melibatkan peserta magang MagangHub, sebagai pemateri.

Kegiatan ini diarahkan untuk mendorong warga binaan mengembangkan kreativitas, dalam menghasilkan kerajinan tangan, sekaligus memahami cara memperkenalkan dan menyalurkan produk kepada masyarakat.

Materi sosialisasi mencakup dua tahapan penting dalam kegiatan ekonomi, yakni produksi dan distribusi.

Produksi diperkenalkan sebagai proses menghasilkan barang, termasuk memanfaatkan barang bekas menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai guna.

Sementara itu, distribusi berkaitan dengan proses penyaluran barang kepada konsumen.

Salah satu cara yang diperkenalkan adalah memajang hasil kerajinan warga binaan di ruang tunggu kunjungan, sehingga keluarga maupun pengunjung dapat melihat dan membeli produk tersebut.

Kepala Urusan Tata Usaha Lapas Wahai, Usman Bakri, yang bertindak sebagai mentor peserta magang mengatakan, pemahaman mengenai proses ekonomi dapat membantu warga binaan mengembangkan hasil keterampilan menjadi produk yang memiliki nilai jual.

“Pendampingan dari peserta magang ini memberikan wawasan baru bagi warga binaan. Mereka tidak hanya didorong untuk menciptakan hasil karya, tetapi juga dibekali pengetahuan tentang cara mendistribusikan produk tersebut, sehingga mampu menciptakan perputaran nilai ekonomi nyata,” kata Usman.

Peserta magang MagangHub, Firza Sabban menjelaskan, bahwa materi tersebut disusun, untuk memberikan gambaran mengenai hubungan antara proses pembuatan barang, dan penyalurannya kepada konsumen.

Menurutnya, keterampilan menghasilkan kerajinan perlu didukung pengetahuan tentang distribusi, agar produk yang dibuat dapat dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kami memberikan materi yang menghubungkan fungsi produksi dan distribusi, di mana produksi adalah proses menghasilkan barang, dan distribusi berfungsi menyalurkan barang tersebut kepada konsumen. Harapannya, materi ini memicu semangat teman-teman warga binaan, untuk kreatif menghasilkan karya dan memahami cara mendistribusikannya ke masyarakat,” ujar Firza.

Dorongan serupa disampaikan narasumber MagangHub lainnya, Indra Wati Niapele. Ia mengajak warga binaan, untuk memandang keterampilan yang dimiliki sebagai potensi produktif, yang dapat dikembangkan menjadi barang bernilai guna maupun bernilai ekonomi.

Indra menilai, pengembangan kreativitas perlu berjalan seiring dengan pemahaman mengenai cara memperkenalkan produk kepada calon konsumen.

Dengan demikian, hasil kerajinan tidak hanya menjadi aktivitas pengisi waktu, tetapi juga berpeluang memberikan manfaat ekonomi.

Salah satu warga binaan berinisial SW menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut.

Ia menilai, materi yang diberikan membuka pemahaman baru mengenai peluang pengembangan hasil kerajinan.

“Materi tersebut memberikan pemahaman baru bahwa hasil karya yang dibuat tidak hanya sebatas aktivitas keterampilan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat,” ungkap SW.

Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya menyatakan, bahwa pengetahuan tentang produksi dan distribusi menjadi bagian penting, dalam mendukung pembinaan kemandirian.

Ia berharap hasil karya warga binaan dapat dikelola dengan baik dan memiliki akses untuk dipasarkan.

“Kami sangat mengapresiasi edukasi mengenai produksi dan distribusi ini. Pengetahuan ini menjadi bekal penting bagi warga binaan, agar berbagai hasil karya yang mereka ciptakan tidak sekadar menumpuk di bengkel kerja, melainkan dapat terdistribusi dengan baik ke masyarakat dan mendatangkan manfaat nyata,” tutur Tersih.

Melalui kegiatan tersebut, Lapas Wahai berupaya memperluas wawasan warga binaan, tidak hanya dalam menghasilkan produk kerajinan, tetapi juga dalam memahami peluang usaha, dan mekanisme pemasaran.

“Pengetahuan ini diharapkan dapat menjadi bekal untuk membangun kemandirian, setelah menyelesaikan masa pidana, sehingga warga binaan memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan, ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat,” harap dia.

Example 400x400