BERITA

Wali Kota Ambon Bidik Rekor Dunia Pemain Jukulele Terbanyak

Qiran
15
×

Wali Kota Ambon Bidik Rekor Dunia Pemain Jukulele Terbanyak

Sebarkan artikel ini
Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026, yang berlangsung di Pattimura Park, Senin (31/8/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena menargetkan, Kota Ambon mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), bahkan rekor dunia untuk jumlah pemain jukulele terbanyak.

Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Ambon sebagai Kota Musik Dunia, sekaligus menjadikan jukulele sebagai identitas musik yang mampu dikenal hingga mancanegara.

Target tersebut disampaikan Wali Kota dalam sambutannya, saat Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026, yang berlangsung di Pattimura Park, Senin (31/8/2026).

Wali Kota mengatakan, pelaksanaan lomba jukulele tidak boleh berhenti, sebagai kegiatan kompetisi semata. Menurutnya, momentum tersebut harus menjadi langkah, untuk membangun gerakan bersama dalam mengembangkan musik tradisional Ambon, khususnya jukulele.

“Kalau kita mengaku Jukulele untuk semua dan Ambon for the world, maka di tahun depan beta (saya) ingin katong menunjukkan kepada dunia, bahwa jukulele bukan sekadar alat musik biasa di Kota Ambon, tapi menjadi jiwa dan semangat kita bersama,” kata Wali Kota.

Karena itu, Wali Kota meminta seluruh pemain jukulele di Kota Ambon mulai didata, dan dipersiapkan untuk tampil secara bersama-sama pada pelaksanaan kegiatan tahun depan.

Ia berharap, jumlah pemain yang dihimpun nantinya dapat mencapai angka, yang memungkinkan Kota Ambon mencatatkan rekor nasional maupun internasional.

“Kalau beta naik di podium seperti ini lagi, katong (kita) bikin acara pembukaan rekor MURI atau rekor dunia, soal pemain jukulele terbanyak di Indonesia, dan kalau bisa di dunia,” ujarnya.

Wali Kota menegaskan, upaya tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata untuk membuktikan, bahwa predikat Ambon sebagai Kota Musik Dunia bukan sekadar gelar yang membanggakan, tetapi harus diwujudkan melalui berbagai program, dan aktivitas musik yang berkelanjutan.

“Pengakuan ini tidak saja membanggakan kita sebagai orang Ambon, tapi adalah tanggung jawab besar kita, untuk memastikan bahwa pengakuan itu tidak sekadar pengakuan biasa-biasa saja,” tegas Wali Kota.

Menurutnya, jukulele memiliki kedudukan penting dalam kebudayaan masyarakat Ambon, karena telah tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari kehidupan musik lokal. Karena itu, keberadaannya harus terus dirawat, dan diperkenalkan kepada generasi muda.

“Jukulele merupakan salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon. Musik tradisional ini menggambarkan identitas kita, sebagai orang-orang Ambon,” katanya.

Wali Kota juga menekankan, bahwa pelestarian jukulele tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah.

Seluruh elemen masyarakat, komunitas musik, sekolah dan generasi muda perlu mengambil bagian, agar musik tradisional tersebut tetap hidup dan berkembang.

Untuk mendukung hal tersebut, Wali Kota meminta, pembelajaran musik di sekolah-sekolah kembali dijalankan secara maksimal.

Ia meminta Sekretaris Kota Ambon, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan pihak terkait segera menyelesaikan berbagai persoalan, yang selama ini menghambat pelaksanaan kurikulum musik.

“Pak Sekot, ini perintah. Tidak ada lagi alasan. Apapun masalahnya segera cari solusi, dan pastikan kurikulum musik terus berjalan di sekolah-sekolah di Kota Ambon,” tegasnya.

Wali Kota memberikan waktu satu bulan, untuk memastikan langkah tersebut mulai diwujudkan.

Ia menilai, pembinaan musik sejak usia sekolah merupakan investasi jangka panjang, untuk melahirkan generasi musisi yang mampu mengharumkan nama Ambon, di tingkat nasional maupun internasional.

“Kota Musik Dunia ini bukan narasi, bukan sekadar pengakuan, tetapi mesti menjadi motivasi kita untuk melakukan berbagai hal, untuk memastikan 10-20 tahun ke depan dari kota ini akan lahir musisi-musisi hebat,” ujarnya.

Wali Kota mengatakan, pembinaan musik juga berkaitan dengan persiapan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Anak-anak yang saat ini berada di bangku SD dan SMP, menurutnya, akan menjadi generasi produktif yang mengambil peran, dalam pembangunan Indonesia pada masa mendatang.

“Sekarang 2026 berarti masih ada 19 tahun waktu yang tersisa bagi katong, untuk memastikan generasi muda anak-anak kita yang hari ini di SD, SMP, 2045 akan mengisi Indonesia Emas, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku-pelaku Indonesia Emas,” katanya.

Ia menilai, musik dapat menjadi salah satu media untuk membentuk karakter anak, meningkatkan kreativitas, melatih kedisiplinan serta membangun kemampuan bekerja sama.

Hal tersebut juga dapat diperoleh, melalui berbagai kompetisi yang memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengukur kemampuan, sekaligus belajar menerima kemenangan maupun kekalahan.

“Perlombaan, kompetisi, pertandingan itu adalah wadah untuk kita memastikan bahwa progres, kemajuan, latihan kita itu bisa terukur. Dia bukan akhir dari segala-galanya,” jelas Wali Kota.

Dalam permainan jukulele, lanjut Wali Kota, setiap pemain harus mampu mengesampingkan ego pribadi, demi menciptakan harmoni.

Nilai tersebut dinilai penting, untuk diterapkan bukan hanya dalam bermusik, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.

“Tidak ada harmoni yang tercipta kalau masing-masing punya ego. Tidak ada harmoni yang tercipta, kalau satu lebih dari yang lain,” ujarnya.

Wali Kota pun mendorong, agar semakin banyak generasi muda Kota Ambon dilibatkan dalam berbagai kompetisi, baik musik, olahraga, seni maupun bidang lainnya.

Menurutnya, semakin banyak anak mendapatkan ruang untuk berkompetisi secara sehat, semakin terasah pula keberanian, kreativitas, kedisiplinan dan kemampuan bekerja sama.

“Biasakan semua anak di kota ini terlibat dalam kompetisi. Kalau itu terjadi, maka tunggu waktu saja untuk Ambon ini mendunia,” tegasnya.

Untuk itu, Wali Kota mengingatkan seluruh peserta, agar tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya tujuan dalam mengikuti perlombaan.

Proses latihan, kebersamaan, pengalaman dan pembentukan karakter dinilai jauh lebih penting bagi perkembangan generasi muda.

“Yang menang bersyukur, yang kalah juga bersyukur. Itulah makna kompetisi,” tandas Wali Kota.

Example 400x400