BERITA

Wawali Ambon: Generasi Muda Harus Modern Tanpa Kehilangan Identitas Budaya

Qiran
42
×

Wawali Ambon: Generasi Muda Harus Modern Tanpa Kehilangan Identitas Budaya

Sebarkan artikel ini
Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta, saat membuka festival budaya bertema “Beta Pung Gaya, Toma Deng Budaya”, yang berlangsung di Taman Budaya Karang Panjang, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Jumat (9/10/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta mengajak generasi muda, untuk memanfaatkan perkembangan zaman sebagai ruang berkreasi, tanpa melupakan budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Maluku. Menurutnya, kemajuan dalam musik, gaya hidup, dan ekspresi seni harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga warisan leluhur.

“Anak muda di Kota Ambon tidak menolak modernisasi, tetapi kita membungkus modernisasi itu dengan akar budaya,” tegas Wawali dalam sambutannya, saat membuka festival budaya bertema “Beta Pung Gaya, Toma Deng Budaya”, yang berlangsung di Taman Budaya Karang Panjang (Karpan), Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Jumat (9/10/2026).

Wawali mengatakan, generasi muda memiliki peluang besar untuk menunjukkan kreativitas, melalui berbagai bentuk seni yang berkembang saat ini. Namun, kebebasan berekspresi tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya daerah, agar identitas masyarakat Maluku tetap terpelihara.

Ia menilai, budaya tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kemajuan. Sebaliknya, tradisi lokal dapat menjadi sumber inspirasi bagi anak muda, untuk menghasilkan karya yang relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus memiliki ciri khas daerah.

Melalui festival tersebut, Wawali berharap, generasi muda Ambon semakin berani menampilkan potensi diri, termasuk melalui musik hip-hop, rap, dan berbagai bentuk kreativitas modern lainnya yang dapat dipadukan dengan unsur budaya lokal.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab generasi terdahulu, tetapi juga tumbuh sebagai kesadaran di kalangan anak muda.

“Budaya harus tetap hidup di tengah perubahan zaman. Anak-anak muda harus bisa berkembang, berkarya, dan mengikuti tren, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri sebagai orang Maluku,” pesan Wawali.

Ia menjelaskan, festival budaya juga memiliki peran penting dalam menyediakan ruang kegiatan yang positif bagi generasi muda. Selain menjadi tempat menampilkan bakat, kegiatan semacam ini dapat memperkuat rasa percaya diri, membangun kebersamaan, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas daerah.

Wawali berharap, kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai perayaan sesaat, tetapi menjadi bagian dari gerakan berkelanjutan untuk memperkenalkan, dan melestarikan kebudayaan Maluku kepada generasi berikutnya.

Ia juga melihat potensi festival budaya sebagai salah satu daya tarik pariwisata di Kota Ambon. Kekayaan tradisi, kreativitas seni, serta karakter masyarakat lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan yang menarik minat pengunjung, sekaligus memperkenalkan Ambon secara lebih luas.

Selain menekankan pentingnya pelestarian budaya, Wawali turut mengajak masyarakat yang menghadiri festival, untuk memberikan dukungan nyata kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Ia mendorong pengunjung, agar tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga mendatangi gerai UMKM dan membeli produk yang dipasarkan oleh pelaku usaha lokal.

Menurut Wawali, penyelenggaraan kegiatan budaya dapat memberikan manfaat lebih luas, apabila mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Keterlibatan pelaku UMKM menjadi salah satu cara, agar aktivitas seni dan kebudayaan turut mendorong perputaran ekonomi lokal.

“Ketika budaya bergerak, ekonomi ikut hidup. Karena itu, mari kita dukung para pelaku UMKM yang ikut mengambil bagian dalam kegiatan ini,” ajaknya.

Wawali menegaskan, kegiatan yang menggabungkan unsur budaya, kreativitas, dan ekonomi masyarakat perlu terus didukung, karena dapat memberikan manfaat bagi berbagai kelompok.

Pelaku seni memperoleh ruang untuk berkarya, generasi muda memiliki wadah untuk mengembangkan kemampuan, sementara pelaku usaha mendapatkan kesempatan memperluas pemasaran produk mereka.

Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, lanjutnya, mendukung berbagai inisiatif yang mampu memperkuat kebudayaan local, sekaligus menghadirkan ruang kreatif bagi masyarakat. Dukungan tersebut diharapkan, dapat mendorong lahirnya kegiatan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi.

Wawali turut menyampaikan apresiasi kepada Ranting Genesis, yang telah mengambil bagian dalam penyelenggaraan festival budaya tersebut. Ia berharap, komunitas dan wadah kreativitas generasi muda terus berkembang, serta berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan tradisi daerah.

Menurutnya, keberadaan komunitas kreatif menjadi penting dalam membangun kesadaran generasi muda, bahwa budaya lokal merupakan kekayaan yang harus dirawat bersama. Dengan keterlibatan berbagai pihak, pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.

Wawali berharap, festival bertema “Beta Pung Gaya, Toma Deng Budaya” dapat menjadi contoh, bahwa modernisasi dan tradisi bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama masyarakat tetap menjadikan nilai-nilai budaya, sebagai landasan dalam mengembangkan kreativitas.

Ia pun mengharapkan, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan aman, serta mampu memberikan pengalaman positif bagi peserta maupun masyarakat yang hadir.

“Melalui kegiatan ini, Pemkot Ambon mendorong generasi muda untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya, sekaligus menjadikan kekayaan tradisi Maluku sebagai modal untuk memperkuat identitas daerah, mengembangkan pariwisata, dan membuka peluang ekonomi bagi Masyarakat,” harap Wawali.

Example 400x400