BERITA

Lapas Wahai Dorong WBP Perkuat Iman dan Peduli Lingkungan

Qiran
29
×

Lapas Wahai Dorong WBP Perkuat Iman dan Peduli Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Kebaktian bagi WBP Kristiani, yang berlangsung di Gereja Ebenhaezer, Kamis (17/9/2026). Foto-Ist/MANTIK

AMBON | MantikNews.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai menjadikan pembinaan keagamaan, sebagai bagian dari upaya membentuk kepribadian, dan memperkuat mental spiritual Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Pembinaan tersebut diwujudkan, melalui kebaktian bagi WBP Kristiani, yang berlangsung di Gereja Ebenhaezer, Kamis (17/9/2026). Ibadah mengangkat tema “Bersama Berdoa, Bertobat dan Menjaga Ciptaan Tuhan”.

Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, kegiatan keagamaan tidak sebatas memberikan ruang bagi WBP untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran, untuk memperbaiki diri dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.

Menurutnya, kondisi kemarau yang sedang berlangsung menjadi salah satu hal yang turut direnungkan dalam ibadah tersebut.

Keterbatasan air, kata dia, perlu dihadapi dengan doa, sekaligus sikap bijak dalam pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

“Ibadah ini menjadi momentum, untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, sekaligus menumbuhkan kepedulian kepada sesama dan lingkungan. Kita berharap, musim kemarau segera berakhir sehingga kebutuhan air dapat tercukupi, termasuk untuk mendukung program ketahanan pangan di Lapas,” ujar Noya.

Ia menambahkan, harapan terhadap turunnya hujan harus dibarengi dengan kesadaran, untuk menghemat dan memanfaatkan air secara bertanggung jawab.

Noya menilai, pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam proses pemasyarakatan.

“Nilai pertobatan, refleksi diri, kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap lingkungan diharapkan tidak berhenti selama WBP berada di dalam lapas, tetapi menjadi bagian dari perubahan sikap dan perilaku mereka,” harap dia.

Sementara itu, Pendeta Lidya Alfons melalui khotbah yang merujuk pada 2 Tawarikh 7:13–14 mengajak WBP, untuk memaknai situasi sulit sebagai kesempatan untuk melakukan introspeksi.

Ia menjelaskan, kekeringan tidak hanya dapat dilihat dari sisi persoalan fisik, tetapi juga menjadi pengingat, agar setiap orang mengevaluasi kehidupannya, meninggalkan hal-hal yang keliru dan kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.

“Ketika menghadapi keadaan sulit, kita tidak hanya datang kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Kita juga diajak merendahkan diri, berdoa dan bertobat. Jadikan keadaan ini sebagai kesempatan, untuk mengevaluasi diri dan semakin dekat kepada Tuhan,” tutur Lidya.

Pesan tersebut mendapat respons positif dari WBP yang mengikuti kebaktian. Salah seorang WBP berinisial MH menilai, ibadah tersebut memberikan ketenangan, sekaligus menjadi pengingat untuk terus melakukan perubahan dalam kehidupan.

“Kami diingatkan bukan hanya untuk berdoa, tetapi juga memperbaiki diri, peduli kepada orang lain dan menjaga lingkungan. Kami juga berharap, hujan segera turun sehingga kebutuhan air masyarakat dan lapas dapat tercukupi,” katanya.

Example 400x400